Senin, 30 November 2015

UKG, PKG, PKB DAN KKG/MGMP



Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan baru saja selesai melaksanakan UKG (Uji Kompetensi Guru) untuk seluruh guru di Indonesia.    Kalau menurut Mendikbud bahwa hasil UKG itu analog dengan cermin bagi guru, saya ingin menambahkan bukan hanya cermin bagi guru tetapi juga cermin bagi penghasil guru, pembina guru dan stakeholers pendidikan.  Kalau ternyata hasil UKG tahun 2015 konon tidak jauh berbeda dengan hasil UKG sebelumnya, maka marilah kita bercermi dari hasil UKG itu.

Jika hasil UKG dapat dibuat secara figuratif brdasarkan sub-sub kompetensi guru, maka setiap guru dapat mengetahui kompetensi atau sub kompetensi mana yang belum dikuasai, sehingga yang bersangkutan dapat fokus dalam memperbaiki diri.  Oleh karena itu akan sangat baik, jika setiap guru dapat mengetahui figurasi tersebut.  Ibarat bercermin, bayangan yang dilihat dapat utuh dan rinci.

Namun perlu dicatat bahwa kompetensi masih berupa potensi dan belum menjadi kinerja.  Oleh karena itu akan sangat ideal jika hasil UKG dipadukan dengan hasil PKG (Penilaian Kinerja Guru).   Sebagaimana diketahui kinerja merupakan perpaduan antara kompetesi dan komitmen dalam bekerja.  Jika kompetesinya tidak bagus, tentu kinerja tidak akan maksimal. Sebaliknya walaupun kompetesinya bagus belum dijamin kinerjanya maksimal, jika ternyata komitmen kerjanya rendah.

Ibarat alat timbangan yang menentukan hasil berat benda yang ditimbang, maka instrumen UKG dan PKB haruslah dapat dipercaya.  Dalam istilah pengukuran disebutkan instrumen seperti itulah haruslah valid dan reliabel.  Apalagi PKG dilaksanakan oleh kepala sekolah dan atau pengawas yang sangat mungkin pemahamannya berbeda.  Oleh karena itu, baik instrumen maupun pelaksanaan UKG dan PKG harus dipastika kredibilitasnya.

Para pembina guru juga dapat menggunakan hasil UKG dan PKG sebagai cermin dari kinerjanya.  Ibarat petani mangga, kesuburan pohon mangga dan kelebatan buahnya juga cermin apakah petani tersebut berhasil memelihara kebun mangganya atau tidak.  Petani yang sukses adalah yang mampu memelihara pohon mangga yang semula kurang subur dan kurang lebat buahnya, menjai pohon mangga yang tumbuh subur dan lebat buahnya.  Pembina guru yang berhasil dalam menjalankan tugasnya adalah mereka yang membuat para guru yang semula kurang kompeten menjadi kompeten dan yang semula kurang baik kinerjanya menjadi baik kinerjanya.

Bagaimana dengan LPTK sebagai produsesn guru?  Hasil UKG dan PKG juga dapat menjadi cermin baginya.  Apakah guru yang dihasilkan memiliki kompetensi yang bagus?  Apakah guru yang dihasilkan merupakan pebelajar yang baik, sehingga setelah lulus dan bekerja terus belajar sehingga kompetensinya terus meningkat.  Apakah guru yang dihasilkan memiliki jiwa pengabdian yang baik, sehingga dengan segala kondisi tetap memiliki komitmen pengabdian yang baik.

Jika benar hasil UKG 2015 tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, berarti perlu upaya sungguh-sungguh dan konsisten untuk meningkatkanya. Ibarat beras yang putih saat digiling karena saling bergesek sesama butiran beras, maka guru akan semakin pandai kalau mereka berinteraksi secara akademik dengan rekan sesama guru.  Oleh karena itu, forum KKG (Kelompok Kerja Guru) dan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) merupakan wahana yang baik untuk membuat guru saling berinteraksi.

Kita sudah punya KKG maupun MGMP, yang diperlukan adalah merancang agar keduanya berfungsi dengan baik.  Di negara lain lembaga seperti itu biasanya disebut PLC (Professional Learning Community) dan terbukti juga menjadi wahana pembinaan sangat baik untuk meningkatkan kemampuan kinerja guru.  Jadi menjadi tugas para pembina guru dan LPTK sebagai prodosen guru untuk melaksanakan after sales services.  Semoga.

Minggu, 29 November 2015

PERKULIAHAN BILINGUAL DI PTN



Pagi tanggal 29 Nopember 2015 Radio Suara Surabaya (SS) menyiarkan berita kalau Menteri Ristek dan Dikti meminta PTN, mulai tahun depan menerapkan perkuliahan dalam dua bahasa atau yang biasa disebut bilingual.  Tidak disebutkan kapan dan dimana Pak Menteri menyampaikan itu.  Mungkin saja di Unair atau di Unesa, karena Sabtu tanggal 28 Nepember 2015  beliau memang di Surabaya dan kalau tidak keliru mengunjungi Unair dan Unesa.

Tanggapan terhadap berita itu bermunculan, baik di Radio SS atau dalam obrolan teman-teman.  Seperti biasanya pro dan kontra terjadi, dengan alasan masing-masing.  Mendengar itu saya langsung teringat saat memberi kuliah Kamis lalu, mahasiswa S2 saya sedang mendiskusikan masalah sulitnya anak-anak S1 memenuhi skor TOEFL.  Seperti diketahui setiap PTN dan beberapa PTS sekarang menerapkan aturan skor TOEFL minimal yang harus dicapai mahasiswa sebelum dinyatakan lulus. Konon banyak mahasiswa terhambat lulus karena itu. Semua matakuliah sudah lulus, skripsi sudah lulus tetapi skor TOEFL belum mencapai batas minimal yang dipersyaratkan.

Nah dalam diskusi dengan topik Analisis Kebijakan Pendidikan itu, sekeompok mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan mengangkat masalah tersebut.  Mereka mencoba menelaah urgensi kebijakan tersebut, masalah yang timbul dan alternatif pemecahannya.  Seperti biasanya diskusi berjalan seru, karena masing-masing mahasiswa punya pandangan berbeda.  Pengalaman dan bahan bacaan tampaknya sangat mempengaruhi pandangan mereka.

Saya juga teringat, ketika Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang dikembangkan Kemdikbud, salah satu alasannya adalah ketidaksetujuan MK adalah RSBI menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pembelajaran.  Nah, sekarang Pak Menteri Ristek Dikti ingin menerapkan itu pada jenjang perguruan tinggi tentu ada alasan yang kuat.

Betulkan bahasa Inggris itu penting?  Dan apakah belajar bahasa Inggris itu mendesak?  Dua pertanyaan itu perlu didiskusinya.  Secara pribadi saya berpendapat belajar bahasa inggris, sebagai bahasa internasional itu sangat penting.  Ketika era global telah datang dan interkasi dalam bekerja maupun kehidupan sehari-hari mengglobal, maka kita akan dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan bangsa lain.  Dan bahasa yang paling lazim digunakan adalah bahasa Inggris.

Dengan mampu berbahasa Inggris kita juga akan lebih percaya diri dan mampu mengekpresikan pikiran kita dalam forum-forum internasional.  Walaupun kita pandai dan punya pemikiran yang cemerlang, tetapi kalau tidak dapat menyampaikan dengan baik, tentu orang lain tidak lahu dan akhirnya pemikiran yang bagus itu tidak bermanfaat bagi orang banyak.

Ketika memberi kuliah kepada mahasiswa S2 dan lebih khusus S3, selalu saya sampaikan kalau bahasa Inggris itu mutlak.  Bayangkan kalau kita sudah lulus S3 dan menjadi doktor, kemudian bertemu dengan doktor lain dari luar negeri yang bidangnya sama, kemudian kita tidak dapat berdiskusi tentu tidak nyaman.  Dari pengalaman, biasanya dalam konteks seperti itu orang akan minggir dan tidak ingin malu.  Pada hal dari pergaulan semacam itulah, kita akan berkembang.

Apakah dengan sekolah atau kuliah dengan pengantar bahasa Inggris akan mengikis rasa nasionalisme kita?  Saya tidak yakin itu.  Rasanya juga belum ada penelitian tentang itu.  Pak Habibie, Gus Dur dan banyak tokoh lain bahkan kuliah mulai S1 di luar negeri dan tentu tidak menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia.  Pondok Modern seperti Pondok Gontor juga mewajibkan santrinya mampu berbahasa Inggris dan Arab.  Setahu saya banyak anak-anak pejabat kita yang berkuliah dan bahwa sejak SMA di luar negeri.  Setahu saya Azrul Ananda putra Pak Dahlan Iskan sejak SMA juga di Amerika.

Ketika MK membatalkan pasal di UU Sisdiknas sehingga RSBI berhenti, saya termasuk menyesalkan.  Buktinya saat ini banyak sekolah swasta yang tetap melaksanakan pola RSBI dengan berbaha nama.  Sekolah seperti itu juga tetap menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.  Hanya saja, karena sekolah swasta dan biasanya mahal yang dapat masuk adalah anak-anak dari keluarga kaya.  Tentu tidak hanya anak keluarga kaya yang harus mampu berbahasa Inggris.

Mudah-mudahan dengan gagasan Pak Menteri Ristek dan Dikti itu, anak-anak muda cemerlang yang mendapat beasiswa Bidik Misi dan berkuliah di PTN segera dapat mengejar kemampuan berbahasa Inggris, sehingga pada saatnya mampu setara dengan teman-temannya dari keluarga kaya dan dulu bersekolah di sekolah-sekolah swasta dengan pengantar bahasa Inggris.

Apakah penerapan perkuliahan bilingual itu mendesak untuk segera diterapkan?  Menurut saya, ya dan bahkan sudah terlambat.  Coba kita lihat formulir saat kita menabung di bank.  Hampir pasti menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Coba kita lihat iklan lowongan pekerjaan.  Sebagian besar menyaratkan bahasa Inggris.  Artinya saat ini saja, bahasa Inggris telah menjadi kebutuhan untuk bekerja dan berinterkasi sosial kemasyarakatan.  Jadi mestinya penerapakan perkuliahan bilingual itu sudah diterapkan sepuluh tahun lalu.

Ada pertanyaan, apa tidak terlalu tergesa-gesa, sementara dosen dan mahasiswa belum siap.  Kalau itu mungkin saja, tetapi harus dimulai segera dan segala keperluan untuk mendukung harus segera pula dikuatkan.  Kalau di Unesa, dosen-dosen muda katakanlah di bawah 35 tahun pada umumnya sudah lumayan bahasa Inggrisnya.  Jika mereka itu diberi pelatihan khusus saya yakin akan segera dapat memulai perkuliahan bilingual.  Yang pokok berani memuluai dengan kerja keras dan konsisten demi masa depan anak-anak kita.  Semoga.

Senin, 16 November 2015

BU SARCE



Seperti saya sebutkan pada tulisan terdahulu, salah satu pendorong saya ke Sabah Malaysia adalah ingin melihat dengan mata kepala sendiri anak-anak TKI yang dulu tidak mendapat kesempatan sekolah dan sekolah sudah mendapat “pintu belajar” melalui CLC (community learning center).  Sabtu tanggal 14 Nopember 2015 saya bersama rombongan mendapat kesempatan mengunjungi salah satu CLC yaitu CLC Cinta Mata.  Lokasi CLC tersebut sekitar 3 jam bermobil dari Kota Kinabalu.  Setelah mengunjungi SIKK (Sekolah Indonesia Kota Kinabalu), sekitar pukul 9.30 kami meluncur ke Cinta Mata.

Lokasinya di daerah pegunungan, di kaki Gunung Kinabalu sehingga udaranya segar.  Masyarakatnya banyak yang berkebun sayuran.  Lokasi CLC Cinta Mata tidak jauh dari jalan raya, hanya sekitar 5 menit bermobil.   Keluar dari jalan raya, belok ke jalan menuju daerah wisata, kemudian belok ke jalan makadam lokasi kebun sayur.  Disitulah lokasi CLC Cinta Mata.

CLC Cita Mata menggunakan fasilitas gereja untuk kegiatan belajar mengajar dan memang pada awalnya dirintis oleh para aktivis gereja.  Walaupun bernama resmi CLC tetapi lebih tepat disebut SD dan SMP Terbuka.  Jumlah siswanya 410 orang, dengan guru 13 orang.  Orangtua siswa adalah para TKI yang pada umumnya bekerja sebagai pekerja kebun sayuran.  Sebagian besar mereka berasal dari Toraja dan Timor.  Mereka sudah di Sabah sangat lama dan banyak anak-anak itu lahir di Sabah.Mereka pada umumnya bekerja sebagai pekerja di kebun sayur milik petani setempat. Ada yang mendapat gaji dan ada yang bekerja dengan pola bagi hasil dengan pemilik lahan/modal.

Saat kami datang, ada seorang ibu berperawakan kecil bercelana panjang sederhana, berbaju merah dengan simbul Garuda Pancasila di dadanya.  Segera saja saya hampiri ibu itu dan ternyata beliau ibu guru perintis CLC Cinta Mata.  Ibu Sarce, sudah 23 tahun tinggal di Cinta Mata dan menjadi guru disitu sejak CLC dirintis 9 tahun lalu.  Walaupun pendidikan formalnya “hanya” SMA, tetapi dari sorot mata dan cara bertutur tampak cerdas dan teguh pendirian.  Dari beliaukah saya mendapat banyak informasi tentang CLC Cinta Mata dan kehidupan TKI di situ.

Bersama ibu Sarce ada 10 guru yang sebenarnya relawan, karena mengajar dengan gaji seadanya yang dikumpulkan dari orangtua siswa.  Meraka adalah Bu Sarce, Pak Martin, Pak Sampe, Pak Yohanes, Bu Yuliana, Pak Emanuel, Pak Agustinus, Bu Elis, Pak Yusuf dan Pak Yunus. Di samping itu ada dua relawan guru dari Malaysia, yaitu Pak Faisal dan Bu Ronisa. Menurut saya ke sepuluh bahkan kedua belas orang itu layak disebut pahlawan pendidikan. Mereka rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk merintis dan mengajar CLC Cinta Mata untuk anak-anak TKI yang telah sekian lama teraniaya.  Di depan orang banyak jujur saya mengatakan, saya merasa tidak ada apa-apanya berhadapan dengan beliau-beliau itu.  Saya datang ke Cinta Mata karena ditugasi Kemdikbud dan dibiayai dengan uang rakyat.  Sementara beliau-beliau itu tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang membiayai tetapi dengan iklas merintis CLC.  Kalau sekarang mendapat gaji. Toh jumlahnya tidak memadai.  Pada hal dari informasi yang saya dapat, beliau-beliau itu bukanlah orang kaya. 

Pak Martin, disamping guru juga ketua Komite Sekolah. Seperti halnya Bu Sarce, tampaknya Yang Maha Adil memberikan imbalan atas perjuangannya.  Putra Pak Marti, Bonu Sampe, walaupun sekolah di CLC yang serba terbatas memenangkan Olimpiade Sains dan Seni di Kuala Lumpur dan mendapat medali emas untuk tingkat SMP.  Demikian juga putra Bu Sarce juga mendapat juara tiga untuk tingkat SD.

Di akhir acara, kami disuguhi nanyian Burung Dadali oleh murid-murid CLC Cinta Mata.  Saya semakin trenyuh.  Dengan alat seadanya, pakaian seadanya, ternyata mereka menyanyi dengan baik dan penuh semangat.  Saya memang tidak melihat bagaimana dia belajar dan juga tidak sempat melihat secara detail sarana pembelajarannya.  Namun dari fasilitas ruangan dan permintaan Pak Martin agar dibantu kursi dan buku, saya menduga fasilitas pembelajarannya juga sangat terbatas.  Namun toh dapat melahirkan pemenang Olimpiade Sains dan Seni di Kuala Lumpur.  Semoga mereka menjadi pemutus mata rantai kemiskinan bagi keluarga masing-masing.  Semoga mereka sukses dalam belajar dan pada saatnya sukses dalam menapaki kehidupan dan tidak kembali miskin seperti orangtuanya.